Berpihak Pada Murid

Memfasilitasi permainan sebagai kebutuhan dasar anak untuk belajar dengan gembira.

Program Organisasi Penggerak (POP)

Organisasi Professi Guru Sebagai Komunitas Praktisi Wadah Kolaborasi dan Pengembangan Kompetensi Guru

Kolaborasi

Kolaborasi dengan rekan sejawat untuk membentuk ekosistem pendidikan yang baik

Curah Pendapat

Diskusi dengan seluruh warga sekolah untuk sebuah prakarsa perubahan positif

Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Tuesday, November 22, 2022

Modul 1.3 : Mulai Dari Diri : Gambar Imaji Tentang Murid Masa Depan

    Memiliki gambaran tentang murid yang kita idam-idamkan dalam sebuah visi adalah penting. Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap dalam sebuah kanvas. Visi juga diibaratkan sebagai penunjuk arah yang akan memandu kita ke tujuan. Visi adalah representasi visual kita di masa depan. Penggambaran visi yang jelas tentang keadaan di masa depan dapat membantu kita untuk merencanakan dan menyelaraskan upaya-upaya untuk mewujudkannya.
 

Demonstrasi Kontekstual Modul 1.1

    Demonstrasi Kontekstual Modul 1.1 tentang metafor untuk menyampaikan sebuah konsep agar bisa dipahami. Dikemas dalam sebuah puisi mengenai nilai filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara
 




Air adalah zat yang saya metaforkan dengan guru. 
Air adalah kehidupan.

Monday, November 21, 2022

Ruang Kolaborasi Modul 1.2 (Nilai dan Peran Guru Penggerak)


Berikut ini hasil kolaborasi antar Calon Guru Penggerak dalam memaknai Modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak



 

Kolaborasi Modul 1.1 (Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara)

Berikut ini hasil kolaborasi antar Calon Guru Penggerak dalam memaknai Modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang dilakukan di ruang kolaborasi dengan bahasan Nilai Sosial Budaya yang sejalan dengan nilai pendidikan Ki Hadjar Dewantara




Gambaran Guru Penggerak Masa Depan

  Sebagai Guru Penggerak (GP) maka nilai-nilai dan peran GP sangatlah penting diejahwantahkan dalam kegiatan sehari-hari. Adapun kegiatan yang mewujudkan nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak di masa depan adalah sebagai berikut

    Pertama adalah Berpihak Pada Murid. Untuk mewujudkan keberpihakan saya pada murid saya selalu melibatkan mereka dalam setiap hal mengenai proses pembelajaran. Seperti kesepakatan di dalam kelas. Saya juga melibatkan murid untuk membuat aturan kelas, model pembelajaran, bentuk tagihan tugas atau asesmen (penilaian) yang mengakomodir semua pihak baik guru maupun murid. 

    Selain itu, saya selalu memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman murid saya. Memperhatikan kodrat alam berarti harus melibatkan kondisi alam (geografis) daerah saya. Kondisi alam di tempat saya adalah daerah pesisir, pertambangan dan perkebunan. Oleh karena itu, setiap materi bahasan menggunakan konten yang berhubungan dengan pesisir, pertambangan, dan perkebunan. Di sisi lain, pendekatan teknologi informasi dan komunikasi saya gunakan dalam pembelajaran sebagai bentuk pertimbangan kodrat zaman anak didik saya. Dalam konteks pelajaran Bahasa Inggris yang saya ampu, maka bentuk pelaksanaannya adalah dengan cara mendesain materi description text dengan bahasan kondisi pantai, kondisi masyarakat pesisir laut dan sebagainya. Materi tersebut disajikan dalam bentuk blog, infografis, maupun konten yang diunggah di kanal YouTube.

    Di sisi lain, untuk melatih kepemimpinan murid. Saya melibatkan siswa dalam kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, maupun praktik baik (best practice) di sekolah. Dengan keterlibatan murid secara langsung maka penumbuhan karakter baik dan kompetensi akan menjadi bermakna. Dalam praktik baik, saya melibatkan murid dalam gerakan "Kawan Asuh". Kegiatan ini dikelola oleh murid dengan pendampingan guru. Murid menggalang dana mingguan dari kotak infaq di setiap kelas. Mereka mengumpulkan dana dan menyalurkannya ke sesama teman yang benar-benar membutuhkannya. Penyaluran dana dalam bentuk barang penunjang kegaiatan belajar agar dana tersebut tidak salah penggunaan. Laporan penggunaan dana dilakukan secara berkala. Dalam waktu dan momen tertentu seperti bulan Ramadhan, "Kawan Asuh" melakukan kegiatan bakti sosial ke panti asuhan dan juga pembagian makanan buka puasa kepada orang yang membutuhkannya.

      Kedua adalah Kolabaratif. Untuk mencapai tujuan pendidikan tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Kerjasama semua pihak pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan. Dalam melaksanakan kegiatan, saya selalu melibatkan murid, rekan guru, dan orang tua. Dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), saya melibatkan murid sebagai bagian dalam pembelajaran. Kegiatan peer teaching (pengajar sejawat) saya gunakan untuk melibatkan murid dalam KBM. Ada kalanya murid lebih mudah memahami materi bahasan ketika disampaikan oleh rekan sejawatnya. Saya juga melibatkan guru sejawat untuk berbagi mengajar di kelas saya. 

    Selain itu, dalam kegiatan kokurikuler literasi, saya melibatkan teman sejawat untuk mendampingi dan memfasilitasi siswa di kelas virtual. Kegiatan literasi di laksanakan di ruang kelas virtual untuk menumbuhkan kebiasaan baik dalam hal penggunaan gawai sebagai alat untuk membantu proses belajar dan perolehan pengetahuan. Hal ini juga sejalan dengan upaya mengakomodir murid dengan kodrat zamannya. Kegiatan literasi dilaksanakan setiap satu minggu sekali dengan bahan bacaan buku digital atau artikel non-pelajaran.

    Di samping itu, saya mengajak guru-guru serumpun dalam kegaiatan MGMP untuk berbagi kegaiatan baik yang dilakukan masing-masing guru di sekolahnya agar bisa menularkan hal baik ke orang lain. Mengundang narasumber yang berkompeten untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan seperti "English Camp" bersama guru-guru Bahasa Inggris di kabupaten tempat saya tinggal.

    Saya juga berkolaborasi dengan trainer dan dinas pendidikan untuk melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi guru melalui organisasi profesi yang saya ikuti. Pelatihan-pelatihan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Seperti pemanfaatan Canva untuk membuat materi bahan ajar, pemanfaatan Google Form dan Quizizz untuk membuat soal evaluasi online. Pemanfaatan Blogger dan Google Site untuk membuat portofolio digital.

    Ketiga adalah Inovatif. Bersifat inovatif berarti saya melakukan terobosan baru dalam KBM maupun di masyarakat. Dalam KBM kegiatan yang saya lakukan adalah membuat bahan ajar dari flip book, canva, linktr.ee, blog dan video youtube. Dalam kegiatan kokurikuler saya membuat kelas literasi virtual menggunakan Google Clasroom dengan materi bacaan e-book, video caption.

    Di lingkungan pendidikan, saya bersama oragnisasi profesi akan melakukan digitalisasi sekolah. Melakukan pelatihan dan pendampingan di sekolah-sekolah pelosok agar mempunyai website sekolah yang bisa menampilkan portofolio kegiatan murid dan guru sehingga bisa berbagi praktik baik dan pengalaman yang bisa dibagikan ke orang lain. Selain itu, melakukan kegiatan berbagi ketrampilan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar. 

    Keempat adalah Reflektif. Bersifat reflektif dalam KBM artinya saya selalu melakukan refleksi di akhir proses pengajaran, baik dari siswa maupun rekan sejawat. Saya meminta siswa memberikan penilaian dan saran tentang KBM. Saya juga melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk mendapatkan masukan mengenai kegiatan pembelajaran yang saya lakukan. Hal ini saya lakukan secara berkala untuk mendapatkan umpan balik guna menyusun perbaikan dari KBM yang telah saya lakukan. 

    Di dalam kegiatan pengajaran bahasa inggris, saya juga melibatkan guru serumpun di lingkungan sekolah dan MGMP untuk mendapat umpan balik dari kegiatan ataupun proses pengajaran yang saya lakukan secara berkala. Di lingkungan organisasi profesi, saya juga membuat kuesioner tentang kegiatan yang telah dilakukan di akhir kegiatan berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru.

    Kelima adalah Mandiri. untuk membentuk kemandirian saya mengikuti kegiatan webinar atau workshop kependidikan paling tidak sebulan sekali untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai guru. Saya juga membaca buku dan jurnal-jurnal pendidikan daring maupun luring khususnya jurnal ELT (English Language Teaching). Selain itu, saya mengoptimalkan fungsi kegiatan MGMP untuk berbagi dan mencari informasi dan pengetahuan baru seputar pengajaran bahasa inggris. Saya juga aktif dalam organisasi profesi untuk bisa berkembang dan mengembangkan orang lain dalam kegiatan seminar, webinar, dan pelatihan baik daring maupun luring.

1.2.a.4 Eksplorasi Konsep (Tugas C)

 Tujuan utama Guru Penggerak (GP) di dalam kurikulum merdeka adalah mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Oleh karena itu maka pendidikan yang dilaksanakan harus bertumpu pada proses perubahan perilaku melalui pembiasaan baik. Dalam diagram identitas gunung es, kita mengetahui bahwa kebiasaan yang muncul dan bisa diamati hanyalah 12% dari karakter manusia. Sebagian besar sisanya 88% masih berada di alam bawah sadar. Kedua bagian ini terjadi baik pada diri manusia itu sendiri maupun terhadap lingkungan tempat dia berada. 

    Oleh karena itu, untuk membentuk identitas hakiki dari seseorang timbul menjadi karakter baik dan muncul secara sadar maka kita sebagai pendidik harus mampu mengoptimalkan penumbuhan karakter yang ada di alam bawah sadar tersebut. Identitas hakiki pada diri seseorang tersebut terdiri dari pola pikir, nilai-nilai, kepercayaan, maupun softskill. Identitas hakiki inilah yang sejalan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila yang harus dikembangkan oleh pendidik. Untuk mentransformasi pendidikan maka perlu adanya transformasi karakter murid dengan cara pengondisian atau pembiasaan baik yang dilakukan melalui keteladanan dan sistem/aturan yang dilakukan secara konsisten.

    Sebagai GP, maka melakukan internalisasi nilai-nilai GP kepada murid agar memiliki Profil Pelajar Pancasila adalah salah satu jalan untuk melakukan transformasi pendidikan. Dalam melakukan pembiasaan baik maka GP perlu memperhatikan diagram identitas gunung es. Artinya, GP harus melatih dan menumbuhkan karakter yang ada di bawah sadar murid. Untuk mengetahui apa yang menjadi karakter di bawah sadar murid, maka guru harus melakukan asesmen diagnostik sehingga GP mampu memetakan pendekatan/metode yang bisa dilakukan untuk melakukan pengkondisian/pembiasaan.

1.2.a.4 Eksplorasi Konsep (Tugas B)

 Nilai-nilai Guru Penggerak (GP) yang dikuatkan setelah memahami Teori Pilihan dan Motivasi Intrinsik adalah berpihak pada murid, kolaboratif, mandiri, inovatif, dan reflektif.

    Pertama, nilai berpihak pada murid adalah bagian yang paling saya rasakan mengalami penguatan. Hal ini dikarenakan bahwa sebagai guru, saya harus mampu dan mau menghamba kepada murid. Sebagai guru, saya harus terus berpegang teguh pada tujuan bahwa muara dari proses pembelajaran ini adalah murid. Dengan cara memusatkan perhatian dan fokus pembelajaran kepada murid, maka kita bisa memberikan tuntunan kepada anak untuk memilih jalan kodratnya sehingga mampu menguatkan laku mereka sebagi manusia (individu) dan sebagai anggota masyarakat.

   Tindakan yang bisa saya lakukan untuk menguatkan nilai keberpihakan pada murid adalah melakukan asesmen diagnostik baik kognitif maupun non-kognitif agar saya bisa memetakan kemampuan, kebutuhan, dan keadaan. Dengan informasi tersebut saya bisa melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Keberagaman ini juga turut serta memberi penguatan profil pelajar pancasila pada murid dalam dimensi Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia.

    Kedua, nilai kolaboratif menjadi hal yang lebih terasa menggugah diri saya. Saya menyadari bahwa peran guru sangat penting dalam menjaga harmonisasi antara individu manusia dengan manusia lain. Semakin harmonis hubungan kita, maka semakin besar kesempatan kita mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa lepas dari keterikatan dengan manusia lain di sekitar kita. Dalam konteks pendidikan maka nilai kolaboratif menjadi sangat penting untuk menjaga hubungan emosional antara guru dengan murid, guru dengan guru, dan guru dengan orang tua murid.

    Tindakan spesifik yang saya lakukan untuk menguatkan nilai kolaboratif adalah mengajak serta rekan sejawat untuk bekerjasama dalam forum diskusi maupun kegiatan. Dalam ruang belajar, saya berupaya menerapkan kerja kelompok (cooperative learning) dan diskusi agar menjadi pembiasaan baik bagi murid dalam menumbuhkan profil pelajar pancasila dimensi Bergotong-royong. Pembiasaan bekerja dalam kelompok (team work) akan memberikan ruang bagi murid untuk belajar bekerjasama dan berkomunikasi dengan orang lain.

    Ketiga, nilai mandiri adalah dasar dari manusia yang merdeka. Manusia merdeka tidak berada dalam perintah orang lain atau hal di luar dirinya. Hal inilah yang menguatkan bahwa saya harus melakukan segala hal berdasarkan inisiatif dari dalam diri saya. Saya mempunyai kekuasaan untuk membuat pilihan dengan kesadaran dan kekuasaan penuh dari diri saya sendiri. Sejalan dengan apa yang saya dapat dari "teori pilihan" William Glasser (1998) yang menyatakan bahwa perilaku seorang manusia adalah buah dari pilihan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

    Tindakan spesifik yang saya lakukan untuk menumbuhkan nilai kemandirian adalah dengan terus belajar untuk meningkatkan kemampuan diri lewat diskusi dengan teman sejawat, mengikuti pelatihan (workshop) agar tertanam kesadaran diri menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Sejalan dengan hal ini, untuk menumbuhkan kemandirian pada murid agar mereka mengalami merdeka belajar adalah membuka ruang diskusi, sumber belajar dan kegiatan yang memfasilitasi mereka untuk beraktualisasi diri baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.     

    Keempat, nilai reflektif sebagai gambaran yang jujur terhadap capaian dan kegagalan tindakan saya adalah nilai yang sangat penting. Kegiatan refleksi diri menjadi alat untuk mengukur kemampuan dan kemauan saya dalam melakukan kegiatan dan proses pembelajaran. Refleksi adalah instrumen perbaikan yang menjadi kunci keberhasilan di masa mendatang. Sikap reflektif adalah sikap yang timbul dari kesadaran untuk terus memperbaiki apa yang sudah dilakukan.

    Tindakan spesifik yang saya lakukan untuk menumbuhkan nilai reflektif adalah membuat potofolio kegiatan dan instrumen penilain diri sendiri dan dari rekan sejawat. Dari hasil capaian tersebut akan digunakan untuk meningkatkan hal yang sudah berjalan baik dan memperbaiki kekurangannya. Untuk menumbuhkan sikap ini pada murid, saya akan membuat instrumen penilaian diri dan refleksi kegiatan belajar mengajar di akhir waktu kegiatan.

1.2.a.4 Eksplorasi Konsep (Tugas A)

    Manusia tergerak karena pengaruh kekuatan dari dalam dirinya. Ada organ otak yang menjadi pusat kontrol penggerak manusia. Secara umum otak bekerja dengan dua cara, yaitu sistem berpikir cepat dan sistem berpikir lambat. Sistem berpikir ini dikendalikan oleh bagian otak yang berbeda-beda. Sistem berpikir cepat dikendalikan oleh Otak Mamalia/Sistem Limbik (amingalda) dan Otak Reptil (Batang Otak). Sedangkan sistem berpikir lambat dikendalikan oleh Otak Primata dan Otak Manusia/Otak Luhur (neocortex).

    Sistem berpikir cepat cenderung tidak memerlukan energi dan sangat berpotensi sering kita gunakan. Sistem ini mengontrol emosi dan otomasi (reflek) manusia. Padahal sistem beripikir ini cenderung menggerakkan kita menjadi subyektif dan reaktif terhadap sesuatu. Hal ini terjadi karena otak reptil cenderung menganggap segala sesuatu itu sebagai sebuah ancaman. Ketika sistem berpikir cepat menguasai gerak manusia maka kita cenderung digerakkan oleh insting yang seringkali mengabaikan kemampuan otak untuk berpikir kritis dan logis.
  Sebagai seorang guru maka kita harus berhati-hati menggunakan sistem berpikir cepat dalam bertindak di dalam kegiatan pembelajaran. Jangan sampai hal tersebut mengambil alih kendali diri kita. Hal ini dikarenakan otak luhur kita tidak akan bekerja maksimal ketika dikuasai oleh emosi dan reflek. Padahal seringkali kita memerlukan kemampuan berpikir logis, kritis, dan terstruktur untuk melakukan tindakan yang terukur dan bermakna dalam proses pendidikan. Kita hanya perlu terus belajar dalam mengendalikan sistem berpikir kita sebab otak memiliki kemampuan untuk belajar. Oleh karenanya, kita bisa memegang kontrol atas diri kita.
    Di samping hal tersebut di atas, ada 5 kebutuhan dasar manusia yang bisa membuat kita "tergerak". Hal tersebut antara lain; kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kekuasaan (power), kesenangan (fun), kebebasan (freedom), bertahan hidup (survival).
    Kebutuhan kasih sayang merupakan kebutuhan psikologis. Pemenuhan kebutuhan ini sangat penting sekali bagi kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan, guru sangat perlu mengetahui kebutuhan murid akan kasih sayang. Guru bisa memenuhi kebutuhan ini dengan menciptakan hubungan yang dipenuhi ketulusan dan kehangatan antara guru dengan murid, murid dengan murid, dan dengan orang tua. Selain itu, ada kebutuhan kekuasaan (power). Dikaitkan dengan dunia pendidikan, kebutuhan ini berkaitan dengan pengakuan atas kemampuan seseorang. Guru perlu memberikan apresiasi dan penguatan terhadap prestasi dan capaian muridnya. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengekspresikan kemampuannya dalam berbagai kegiatan seperti proyek ataupun tugas kontekstual yang menantang. 
    Lebih jauh lagi, ada juga kebutuhan kesenangan (fun). Kaitannya dengan dunia pendidikan, kebutuhan ini bisa diperoleh dengan mendesain pembelajaran yang mengandung kegiatan bermain. Belajar terasa akan menyenangkan dan bermakna bila dilakukan dengan gembira lewat model-model pembelajaran yang dipakai dalam kegiatan belajar mengajar. Guru tidak bersifat kaku dan bisa menciptakan suasana yang cair dan menyenangkan. Ada pula kebutuhan kebebasan (freedom). Kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk mandiri dan memiliki pilihan sendiri. Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan cara memberikan ruang bagi murid untuk  mengaktualisasikan diri mereka. Kebutuhan dasar terakhir adalah bertahan hidup (survival). Kebutuhan ini adalah kebutuhan fisiologi. Dalam konteks pendidikan, kebuthan ini bisa dipenuhi dengan memberi kesempatan murid untuk melakukan kegiatan fisik seperti olahraga. Selain itu, memberikan rasa aman sebagai bentuk perlindungan kepada murid akan membuat kebutuhan dasar mereka terpenuhi dengan baik. 
    Di sisi lain, pemahaman terhadap tahap tumbuh kembang anak menjadi sangat krusial. Dengan pemahaman yang baik maka guru bisa membuat pendekatan dan metode pengajaran yang efektif. Dalam tahapan awal usia belajar Ki Hadjar Dewantara menamakan periode "wiraga". Pada masa usia 0-8 tahun ini guru harus bisa memberi kesempatan anak mengeksplorasi jasmani (raga), panca indera, dan lingkungannya untuk mendapatkan pengalaman belajar yang seluas-luasnya. Guru juga harus mampu memancing anak-anak didiknya agar mempunyai inisiatif dan merespon inisiatif mereka dengan tepat dan hati-hati agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang dihantui rasa bersalah.
    Tahap tumbuh kembang berikutnya pada usia 9-16 tahun disebut periode "wiraga-wirama". Dalam periode ini anak mulai berkembang proses berpikirnya. Guru harus mampu menuntun proses berpikir anak agar selaras dengan sesama dan lingkungannya. Melatihkan kemampuan berpikir tingkat tinggi agar mampu berpikir kritis. Guru juga bisa melakukan pembiasaan-pembiasaan baik untuk menuntun lakunya agar mampu menginternalisasi nilai-nilai kebaikan di dalam dirinya. Periode berikutnya usia 17-24 tahun disebut periode "wirama". Pada masa ini, guru harus bisa menuntun dan menantang anak untuk melakukan pengelolaan diri. Menumbuhkan kemampuan metakognitifnya. Hal ini bertujuan agar murid mempunyai kemampuan menata masa depannya agar bisa membangun jati dirinya seirama dengan sesama dan lingkungannya.
    Sebagai Guru Penggerak, nilai-nilai yang perlu dikuatkan adalah berpihak pada murid, inovatif, kolaboratif, reflektif dan mandiri. Berpihak pada murid bisa dilakukan dengan memberikan pelayanan pengajaran yang baik. Guru memberikan pengajaran yang berdiferensiasi dari asesmen diagnostik yang dilakukan agar proses pembelajaran sesuai dengan gaya belajar dan kebutuhan murid. Guru juga harus bisa memerdekakan murid dalam belajar dengan memfasilitasi proses kemandirian mereka dalam mengakses sumber pengetahuan. Untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan menarik guru juga perlu melakukan inovasi pembelajaran terutama apabila mendapati kemajuan penguasaan kompetensi murid belum terlalu meningkat. Hal tersebut bisa didapatkan bila guru mampu menjadi guru yang reflektif. Dalam artian setiap proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan kemudian direfleksikan agar bisa diketahui kemajuan yang dicapai dan hal-hal yang belum tercapai. Tak kalah pentingnya guru harus bersifat kolaboratif. Hal ini dilakukan dengan kemampuan guru untuk bekerjasama dengan rekan sejawat dan orang tua untuk mendapatkan masukan dan sumbangan gagasan dari pihak yang berkepentingan (stake holder).
    Selain hal tersebut, nilai -nilai yang tak kalah penting adalah semangat belajar agar menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).  Guru Penggerak harus terus menyelaraskan pengetahuannya dengan perkembangan zaman. Banyak hal yang harus dipelajari agar memiliki wawasan yang luas sehingga mampu mendapatkan gambaran secara menyeluruh/utuh terhadap persoalan yang dihadapi. Selain itu, Guru Penggerak harus memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, dan terstruktur sebagai hasil kerja otak luhur. Guru Penggerak juga harus memiliki determinasi yang tinggi untuk bisa membuat perubahan di lingkungan sekitarnya.