Berpihak Pada Murid

Memfasilitasi permainan sebagai kebutuhan dasar anak untuk belajar dengan gembira.

Program Organisasi Penggerak (POP)

Organisasi Professi Guru Sebagai Komunitas Praktisi Wadah Kolaborasi dan Pengembangan Kompetensi Guru

Kolaborasi

Kolaborasi dengan rekan sejawat untuk membentuk ekosistem pendidikan yang baik

Curah Pendapat

Diskusi dengan seluruh warga sekolah untuk sebuah prakarsa perubahan positif

Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Monday, December 19, 2022

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4

 Pada Jurnal  Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4 tentang Budaya Positif kali ini saya akan merefleksikan kembali apa yang telah saya pahami selama saya mempelajari modul 1.4. Dalam hal ini saya akan menggunakan metode 4F yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenway yang mencakup 4 F yaitu Facts (Peristiwa), Feelings (Perasaan), Finding (Pembelajaran) dan Future (Penerapan).

Fact (Peristiwa)

Dalam modul 1.4 tentang Budaya Positif ini banyak hal yang saya pelajari yang dimulai dari diri dengan mempelajari sub modul dengan tujuan pembelajaran khusus yaitu; Mengaktifkan pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah. Mengamati bagaimana sistem rancangan di sekolah masing-masing dapat menciptakan lingkungan positif serta mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara. Kemudian dilanjutkan materi ke sub modul Eksplorasi Konsep yang mencakup beberapa bagian yaitu : Disiplin positif dan nilai-nilai kebajikan universal; Teori motivasi, hukuman dan penghargaan, serta restitusi ; Keyakinan Kelas ; Kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas ; Restitusi - Lima Posisi Kontrol ; Restitusi - Segitiga Restitusi

Feeling (Perasaan)

Selama mempelajari modul ini saya banyak menemukan pemahaman baru tentang budaya positif yang berbanding terbalik dengan apa yang saya yakini selama ini. Sebelumnya saya berkeyakinan bahwa penerapan  displin itu harus dengan hukuman. Disiplin itu harus dipaksakan sampai anak terbiasa dan sadar dengan sendirinya. Ketika murid melanggar peraturan mereka harus menerima konsekuensi sesuai dengan apa yang mereka perbuat agar menimbulkan efek jera dan pembelajaran bagi yang bersangkutan dan murid lain yang mengetahuinya. Saya beranggapan disiplin akan berhasil apabila mereka mentaati aturan tanpa terkecuali, dan tanpa memikirkan efek psikologis jangka panjang yang diterima oleh murid tersebut. Selain terbukanya pemahaman saya tentang penerapan budaya positif , saya juga merasa menyesal jika mengingat ketika saya memposisikan diri saya dalam posisi kontrol sebagai seorang penghukum. Karena bisa saja ada murid yang kecewa atau bahkan sakit hati setelah menerima hukuman dari saya.   

Finding (Pembelajaran )

Pembelajaran yang saya dapatkan setelah mempelajari modul ini adalah bahwa hukuman atau penghargaan tidak efektif untuk membuat lahirnya motivasi intrinsik murid dalam jangka panjang. Murid akan bertindak karena ingin mendapat hadiah (pujian) atau menghindari hukuman saja. Selain itu, sebagai calon guru penggerak, saya harus mampu menempatkan diri dalam posisi kontrol yang tepat dalam penerapan budaya positif di sekolah yaitu posisi kontrol yang ideal sebagai Manajer dengan menerapkan Segitiga Restitusi sebagai solusi ketika ada murid yang melanggar keyakinan kelas/sekolah. Segitiga Restitusi menjadi sebuah paradigma solusi permasalahan di sekolah karena dengan segitiga restitusi kita bisa melihat kebutuhan dasar murid yang mana yang tidak terpenuhi sehingga tidak sesuai dengan keyakinan kelas/sekolah. Di samping itu juga, segitiga restitusi menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004).

Future (Perubahan)

Hal yang akan saya lakukan untuk melakukan perubahan yang positif adalah dengan lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik karena pelanggaran terhadap keyakinan kelas/sekolah terjadi karena murid tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan dengan baik. Selanjutnya berusaha menerapkan perubahan paradigma stimulus respon menjadi teori kontrol. Dalam hal ini menggunakan posisi kontrol ideal sebagai manager dalam menangani kasus siswa. Meninggalkan posisi Penghukum atau Pembuat Merasa Bersalah. Selain itu, menerapkan dan menularkan paradigma segitiga restitusi kepada warga sekolah dan selalu menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah dengan  berkolaborasi dengan warga sekolah dan berbagai pemangku kepentingan, walaupun merubah budaya sekolah menjadi budaya positif perlu waktu dan peran serta semua pihak yang berkepentingan.

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3

Setelah mempelajari Modul 1.3. Saya mencoba merefleksikan pemahaman saya tentang Visi Guru Penggerak. Dalam membuat refleksi saya mencoba menggunakan model Six Thinking Hats. 

FAKTA

  • Seorang guru harus memiliki visi tentang murid dan ekosistem sekolah
  • Inkuiri Apresiatif (IA) adalah sebuah paradigma manajemen perubahan yang bersifat kolaboratif untuk menemukan hal positif dalam diri sesorang maupun sebuah organisasi. Dilaksanakan melalui pendekatan prakarsa perubahan BAGJA (Buat pertanyaan , Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi
  • Berpikir pada aset (modal, kekuatan) bukan berpikir defisit (kelemahan, kekurangan)

PERASAAN
Perasaan sangat senang dan tertantang setelah belajar bagaimana membuat VISI dan membuat prakarsa perubahan lnkuiri Apresiatif (IA) dan penerapan kanvas BAGJA

HAL-HAL POSITIF

  • Pengetahuan baru mengenai kanvas BAGJA untuk membuat prakarsa perubahan
  • Pengetahuan baru bahwa guru harus memiliki visi yang menggugah dan luas sehingga mampu mewujudkan profil pelajar Pancasila dalam diri muridnya
  • Kegiatan kolaborasi sangat penting dalam membuat gagasan hebat dan menyelesaiakan persoalan dengan baik

KENDALA, HAMBATAN, RESIKO

  • Pengetahuan baru memang memerlukan waktu dan usaha untuk mengaplikasikannya
  • Merubah budaya sekolah memang tidak mudah. Adanya penolakan atau partisipasi warga sekolah yang rendah.

JABARKAN IDE-IDE

  • Saya akan menggunakan kanvas prakarsa perubahan BAGJA untuk membuat terobosan baru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seperti meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar siswa terhadap pelajaran Bahasa Inggris
  • Saya akan menggunakan kanvas prakarsa perubahan BAGJA untuk membuat perubahan positif terhadap budaya sekolah seperti kegiatan literasi dan praktik baik lainnya

TARIK KESIMPULAN

Sebuah keberhasilan tidak akan terwujud kecuali kita mau memulai perubahan lewat aksi nyata. Kanvas BAGJA sebagai prakarsa perubahan bisa dijadikan parameter kegiatan yang terukur dan terarah dan membantu mencapai tujuan yang kita inginkan dengan efektif dan efisien.


Thursday, November 24, 2022

Modul 1.3 : Eksplorasi Konsep Kanvas BAGJA

    Refleksi Mandiri kali ini akan mengeksplorasi konsep manajemen prakarsa BAGJA. Ini adalah akronim dari kegiatan yang merupakan pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA). Sintaksis kegiatannya yaitu Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi. Dalam kegiatan diskusi selalu diawali dengan pertanyaan positif. Hal ini dilakukan agar kita Berpikir Aset bukan sebaliknya Berpikir Defisit.
 

Jurnal Refleksi Dwi Mungguan Modul 1.2

    


Setelah mempelajari Modul 1.2, saya mendapatkan banyak hal yang akan saya refleksikan dalam tulisan ini

Connection

Materi yang tersaji di modul 1.2 sangat penting karena di sini saya mengetahui nilai dan peran guru penggerak. Nilai -nilai itulah yang menjadi dasar diri saya tergerak, bergerak dan menggerakkan. Nilai dan peran guru penggerak itulah yang menjadi dasar saya bertindak dan mengembangkan diri.

 

Challenge

Selama ini saya mengajar hampir tidak pernah melibatkan rekan sejawat. Tantangan yang muncul setelah mempelajari modul 1.2 adalah kolaborasi dengan guru serumpun. Selain itu juga, saya jarang melibatkan murid untuk menjaga keberpihakan saya kepada murid.

 

Concept

Konsep utama yang saya pelajari adalah nilai dan peran guru penggerak. Nilai tersebut antara lain berpihak pada murid, kolaboratif, inovatif, reflektif, dan mandiri. Selain itu, guru penggerak juga memiliki peran antara lain pemimpin pembelajaran, coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi.

 

Change

Perubahan yang terjadi setelah mempelajari modul 1.2 adalah keberpihakan saya kepada murid. Selama ini saya jarang melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas, menentukan kegiatan pembelajaran. Setelah mempelajari modul ini, saya memahami pentingnya mengakomodasi kebutuhan belajar murid. Selain itu, saya memahami perkembangan psikososial anak yang membuat saya juga berhati-hati dalam bertindak. Hal ini saya sadari karena luka batin yang timbul akibat ucapan atau tindakan kita yang salah akan membekas dalam jangka waktu yang panjang.

Saya juga mempelajari nilai kolaboratif pada seorang guru penggerak. Saya menyadari pentingnya berkolaborasi dengan rekan sejawat. Saya memulai meminta umpan balik dan berbagi praktik baik dengan rekan sejawat dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan kokurikuler seperti gerakan literasi sekolah.

Selain itu, nilai inovasi membuat saya lebih sering melakukan inovasi. Seperti halnya penilaian akhir semester ini saya memakai soal online dari Google Form. Selain itu saya memanfaatkan blog pembelajaran untuk mengunggah materi pelajaran. Saya membuat materi dari pemanfaatan platform Canva. Selain itu saya berkolaborasi dengan teman sejawat untuk membuat kelas literasi virtual dengan memanfaatkan Google Classroom dan akun belajar.id. Hal ini untuk mengakomodasi keberpihakan pada murid yang dunianya sangat akrab dengan dunia virtual

Monday, November 21, 2022

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1


          Salam dan Bahagia!

        Saya akan memberikan refleksi terhadap apa yang saya pelajari selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. Di modul 1.1 ini saya belajar banyak hal yang akan saya deskripsikan menjadi empat bagian utama

Facts (Peristiwa)

        Kegiatan pendidikan guru penggerak angkatan 7 di Kalimantan Selatan dibuka secara virtual pada hari Kamis, 20 Oktober 2022 dihadiri seluruh Calon Guru Penggerak (CGP), Pengajar Praktik (PP), Fasilitator (Fasil) dan Pejabat dari Balai Guru Penggerak (BGP) Kalimantan Selatan. Secara khusus, di Kabupaten Kotabaru, kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) dimulai pada hari Minggu, tanggal 23 Oktober 2022 dengan kegiatan Lokakarya Orientasi. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh stake holder pendidikan mulai dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru, BGP Kalimantan Selatan, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.

        Setelah itu CGP dibagi dalam beberapa kelompok bersama PP, Kepala Sekolah dari CGP dan Pengawas Sekolah. Para CGP melakukan kegiatan pengenalan, presentasi dan kolaborasi untuk kegiatan awal PGP bersama Kepala Sekolah dan Pengawas.

        Setelah Lokakarya Orientasi, saya dan para CGP lainnya belajar secara asinkronus bersama PP dan Fasil di ruang virtual Learning Management System (LMS). Kami belajar tentang dasar-dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan. Selain itu, kami juga belajar secara sinkronus dengan kolaborasi bersama sesama CGP melalui video conference. Kami mendiskusikan tentang nilai-nilai sosial budaya yang relevan dengan pendidikan di daerah kami. Di setiap akhir materi, selalu diadakan refleksi tentang materi yang dipelajari.

        Selain belajar bersama CGP, PP dan Fasil, saya juga belajar bersama Instruktur dari Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Jawa Barat secara virtual pada hari Rabu, 2 November 2022. Saya belajar tentang kaitan materi mulai dari awal tentang dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara. 

Feeling (Perasaan)

        Perasaan saya mengikuti kegiatan PGP selama dua minggu ini adalah sangat senang dan antusias. Rasa lelah dalam mempelajari materi dan mengerjakan tugas terbayarkan dengan pengalaman baru yang mengasyikkan. Saya bisa belajar dan berkolaborasi dengan CGP hebat yang ada di daerah saya. Saya belajar banyak hal baru tentang dunia pendidikan dari diskusi yang berlangsung selama ini.

        Saya juga merasa bersalah karena banyak hal baru yang menggugah hati saya. Seperti katak dalam tempurung. Selama ini saya merasa cara mengajar saya sudah baik, tetapi ternyata banyak cara-cara pengajaran saya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Findings (Pembelajaran)

        Melalui PGP saya banyak menemukan landasan pendidikan yang sangat fundamental, humanis, dan kontekstual. Saya banyak belajar bagaimana melayani anak-anak didik dengan baik. Meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara adalah "menghamba pada murid". Saya belajar bagaimana memperlakukan anak-anak dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Belajar melibatkan mereka dalam setiap KBM. Anak-anak bukanlah tabula rasa yang bisa dengan semaunya kita dikte sesuai kehendak kita (orang dewasa). Mereka punya kebebasan dalam memilih kebutuhan belajar dan gaya belajar. 

        Saya juga banyak belajar bahwa pendidikan harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Setiap anak, setiap daerah meiliki karakter yang berbeda. Keadaan alam (geografis) dan keadaan sosial budaya masyarakat pun beragam. Hal ini memerlukan pendekatan yang berbeda pula antara daerah satu dengan yang lainnya. Baik konten maupun konteks harus disesuaikan dengan kondisi anak didik berada. Begitu juga dengan nilai-nilai sosial budaya masyarakat, bisa menjadi bagian dari pendidikan anak-anak di sekolah. 

        Hal yang sama juga harus menjadi pertimbangan adalah kodrat zaman. Anak-anak didik kita di zaman ini adalah generasi yang sangat akrab dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Oleh karena itu, keterlibatan TIK dalam dunia pendidikan harus menjadi pertimbangan. Apalagi anak-anak didik ini akan mengahadapi persaingan global tanpa batas yang melibatkan kemampuan penggunaan teknologi.

        Di samping itu, saya juga  belajar bagaimana guru harus menjadi suri tauladan bagi anak-anak didiknya (ing ngarsa sung tuladha), harus bisa menggugah motivasi dan inspirasi anak-anak didiknya (ing madya mangun karsa), harus bisa menjadi motor pendorong anak-anak didiknya agar terus bergerak meningkatkan kompetensi diri (tut wuri handayani).

Future (Penerapan)    

        Setelah mempelajari modul dan melakukan beberapa kegiatan diskusi (kolaborasi) dengan rekan CGP, Pengajar Praktik, dan Fasilitator, saya memiliki gambaran untuk menjadi guru yang baik. Pertama, saya akan selalu berusaha menjadi suri tauladan (role model) bagi anak-anak didik saya. Saya akan berusaha disiplin untuk mengajar agar anak-anak juga bisa disiplin dalam menghargai waktu. Saya akan terus belajar dengan banyak membaca buku sehingga bisa menularkan kebiasaan ini sebagai bagian dari penggerak literasi sekolah. Selain itu saya harus bisa menjaga sikap, ucapan dan perbuatan baik agar bisa menjadi contoh anak-anak didik saya.

        Selain itu, di ruang belajar saya akan melibatkan anak-anak dalam membuat kesepakatan (aturan) bersama mengenai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sehingga saya bisa bersifat demokratis dan menampung aspirasi anak-anak didik saya. Saya akan berusaha menghilangkan hukuman yang tidak logis atas pelanggaran anak-anak didik terhadap kesepakatan belajar yang sudah kami buat bersama. 

        Saya akan berusaha membuat ruang belajar sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak didik saya. Hal ini akan saya wujudkan dengan lebih banyak menggunakan model-model pembelajaran yang aktif dan menyenangkan seperti memasukkan kegiatan permainan (game), mendengarkan lagu, menonton film, dan bermain peran. Serta tak lupa memasukkan sentuhan penggunaan teknologi dalam pembelajaran seperti bermain scrabble online, quis online dan media online lainnya.

        Saya juga akan memasukkan konten pembelajaran dan konteks sosial budaya serta memperhatikan kondisi alam (geografis) peserta didik saya. Seperti halnya memasukkan nilai ajaran masyarakat Banjar "bauntung, baiman, batuah"  ke dalam proses pendidikan. 

        Bauntung artinya beruntung, dalam hal ini bagaimana menjadi orang yang beruntung. Orang yang beruntung adalah orang yang memiliki budi pekerti yang baik (sehat rohani) dan memiliki fisik yang sehat (sehat jasmani) dengan pemberdayaan  olah rasa  dan olah raga. Olah rasa bisa dilakukan dengan pembiasaan baik kepada anak didik seperti kegiatan sedekah untuk membantu teman mereka yang kurang beruntung sehingga menimbulkan rasa empati kepada sesama. Olah raga dilakukan dengan kegiatan senam pagi bersama dan giat kerja bakti.

        Baiman artinya beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan untuk mengimplementasikan hal ini adalah pembiasaan sholat berjamaah bagi yang beragama Islam (khususnya sholat Dzuhur berjamaah) dan pembiasaan membaca kitab suci agama masing-masing di awal memulai KMB sebelum pelajaran pertama dimulai. 

    Batuah artinya bertuah atau memiliki manfaat yang luar biasa bagi orang lain. Orang yang bermanfaat bagi orang lain tentunya adalah orang yang berilmu. Dengan ilmu, apa yang ada pada diri seseorang akan bernilai manfaat bagi orang sekitarnya. Untuk mencapai tujuan ini maka akan saya lakukan elaborasi pengetahuan anak didik saya, khususnya dalam pelajaran Bahasa Inggris, akan dilaksanakan "English Club" sebagai ekstrakurikuler yang bisa menambah wawasan dan ketrampilan anak didik saya di bidang Bahasa Inggris.